Sunday, 2 August 2015

SETIAP PUKUL 10.00 ITU...


Aku bersyukur telahir sebagai wanita, seperti R.A. Kartini Wanita yang tak hanya berjuang dalam hak Namun wanita yang mengajak bermartabat , bagi keluarga Bagi Masyarakat dan Bangsa tercinta. Bak lentera apapun tema dan judul tentang Kartini mencerahkan ide, sikap dan kewanitaanku, baik sebagai Ibu, istri, maupun kiprahnya dimasyarakat. Beruntung aku pernah mengenyam pendidikan S2, namun dosen  “TAMU” adalah pilihan yang kutempuh selama 10 tahun ini, pertimbangannya adalah ANAK dan KELUARGA. Hasratku memaknai kodratku sebagai Wanita adalah salah satu list cita-citaku yang bahkan kuucapkan sedari kukecil ketika Ibu guru Tk ku bertanya didepan kelas “BESOK GEDE MAU JADI APA?” dan aku kecil  menjawab dengan lantang “AKU INGIN SEPERTI IBUKU YANG BEGITU MENYAYANGIKU SETIAP WAKTU” akupun ingin anak-anakku begitu bangga karena Tuhan sudah pilihkan aku sebagai Bundanya.  Dan kini impian itu jadi nyata: kupastikan bahwa aku adalah Wanita pertama yang dicintai oleh anak-anakku, akulah “PENEMU” pertama perkembangan dan pertumbuhanya fase demi fase, akulah guru Idolanya sebelum dia mengenal Bu Yani atau Bu Atun guru dsekolahnya, Aku adalah Chef adalan sehingga anakku selalu berucap “AKU SIAP MAKAN” teriak anak-anakku dddan dibalas dengan sahutan Ayah “Ayah juga ayo kita sarapan pagi” potret keluargaku dipagi hari. aku punya banyak waktu tak hanya membelainya dan berucap SELAMAT BOBO, seperti kata Khalilla anakku “ “Aku seneng Bunda temenin aku bobo siang, mainan masak-masakkan Bunda sahabat terbaikku Aku sayang Bunda “ tuturnya polos penuh cinta. Sederhana tapi sungguh istimewa untukku. Kuajarkan banyak hal tak hanya a,b,atau z tapi cakrawala indah tentang betapa “pintarnya” Tuhan mendisain dunia dan kehidupannya. 

 

setelah kupastikan anak-anakku sehat, aman dan nyaman, Dan setiap Pukul 10.00 itu aku baru keluar dari rumah mengabdikan eksistensi keilmuanku dan kupastikan 16.00 adalah batas maksimalku diluar rumah. Sebagai Kartini Modern yang berhasrat “MENGKARTINIKAN” generasi muda, lewat pendidikan Kebidanan kini aku berkecimpung. Berharap mulai dari BIDAN dapat mendampingi Ibu hamil dan melahirkan generasi Kartini yang hebat. Tak hanya berorientasi pada kesehatan fisik tapi juga psikologis, tak hanya jadi Bidan tapi Bidan plus. Mengajar membuatku terus belajar, membaca, berdiskusi, bertukar pikiran. Laksana R.A. Kartini yang terus belajar hingga akhir hidupya.

Aku juga punya banyak waktu luang untukmelakukan banyak hal, menulis, bikin blog, ikut kuis, bercengkerama dengan sahabat, juga menambah income pasif, yang membuat suamiku bangga aku menjadi istrinya. Bismillah semoga hasrat untuk maju ini takakan padam walau rintangan menghadang seperti Tekad dan semangat R.A. Kartini. Karena Kartini sudah mengsi ruang dalam relung hati juga pikiranku

No comments:

Post a Comment