Aku bersyukur telahir sebagai wanita, seperti R.A. Kartini Wanita yang tak hanya berjuang dalam hak Namun
wanita yang mengajak bermartabat , bagi keluarga Bagi Masyarakat dan Bangsa
tercinta. Bak lentera apapun tema dan judul tentang Kartini mencerahkan ide,
sikap dan kewanitaanku, baik sebagai Ibu, istri, maupun kiprahnya dimasyarakat.
Beruntung aku pernah mengenyam pendidikan S2, namun dosen “TAMU” adalah pilihan yang kutempuh selama 10
tahun ini, pertimbangannya adalah ANAK dan KELUARGA. Hasratku memaknai kodratku
sebagai Wanita adalah salah satu list cita-citaku yang bahkan kuucapkan sedari
kukecil ketika Ibu guru Tk ku bertanya didepan kelas “BESOK GEDE MAU JADI APA?”
dan aku kecil menjawab dengan lantang
“AKU INGIN SEPERTI IBUKU YANG BEGITU MENYAYANGIKU SETIAP WAKTU” akupun ingin
anak-anakku begitu bangga karena Tuhan sudah pilihkan aku sebagai
Bundanya. Dan kini impian itu jadi
nyata: kupastikan bahwa aku adalah Wanita pertama yang dicintai oleh
anak-anakku, akulah “PENEMU” pertama perkembangan dan pertumbuhanya fase demi
fase, akulah guru Idolanya sebelum dia mengenal Bu Yani atau Bu Atun guru
dsekolahnya, Aku adalah Chef adalan sehingga anakku selalu berucap “AKU SIAP
MAKAN” teriak anak-anakku dddan dibalas dengan sahutan Ayah “Ayah juga ayo kita
sarapan pagi” potret keluargaku dipagi hari. aku punya banyak waktu tak hanya
membelainya dan berucap SELAMAT BOBO, seperti kata Khalilla anakku “ “Aku
seneng Bunda temenin aku bobo siang, mainan masak-masakkan Bunda sahabat terbaikku
Aku sayang Bunda “ tuturnya polos penuh cinta. Sederhana tapi sungguh istimewa
untukku. Kuajarkan banyak hal tak hanya a,b,atau z tapi cakrawala indah tentang
betapa “pintarnya” Tuhan mendisain dunia dan kehidupannya.
setelah kupastikan anak-anakku
sehat, aman dan nyaman, Dan setiap Pukul 10.00 itu aku baru keluar dari rumah
mengabdikan eksistensi keilmuanku dan kupastikan 16.00 adalah batas maksimalku
diluar rumah. Sebagai Kartini Modern yang berhasrat “MENGKARTINIKAN” generasi
muda, lewat pendidikan Kebidanan kini aku berkecimpung. Berharap mulai dari
BIDAN dapat mendampingi Ibu hamil dan melahirkan generasi Kartini yang hebat.
Tak hanya berorientasi pada kesehatan fisik tapi juga psikologis, tak hanya
jadi Bidan tapi Bidan plus. Mengajar membuatku terus belajar, membaca,
berdiskusi, bertukar pikiran. Laksana R.A. Kartini yang terus belajar hingga
akhir hidupya.
Aku juga punya banyak waktu luang
untukmelakukan banyak hal, menulis, bikin blog, ikut kuis, bercengkerama dengan
sahabat, juga menambah income pasif, yang membuat suamiku bangga aku menjadi
istrinya. Bismillah semoga hasrat untuk maju ini takakan padam walau rintangan
menghadang seperti Tekad dan semangat R.A. Kartini. Karena Kartini sudah mengsi
ruang dalam relung hati juga pikiranku
No comments:
Post a Comment