Sunday, 2 August 2015

AKU PINJAM BEDAKNYA BUNDA BOLEH YAA, AKU MAU CANTIK KAYA BUNDA


“Bunda, boleh yaa Khalilla pinjam bedak Bunda, Khalillakan mau cantik kaya Bunda” ungkap Khalilla padaku sembari bergelayut anja didadaku. Aku yang sedang asyik ngeteh  Sariwangi hangat bersama Ayah dan kakaknya tersenyum mendengar pertanyaanya.

Meski geli mendengar pertanyaannya tapi aku beruhasa bersikap dan berpikir positif padanya. “Wahhh rupanya anak Bunda sudah besar yaa, tapi sayang kosmetik punya Bunda kurang pas dikulitmu nak nanti Bunda belikan yang khusus buat peri cantik Bunda ini ya sayang, bedak khusus anak-anak. Rupanya peri kecilku banyak mengcopy paste sikap dan perilakuku. Sebagai bunda aku akan terus berusaha memberikan contoh yang baik karena rupannya baginya aku adalah Roll model.

“Bunda cerita dong, dulu waktu kecil Bunda seperti apa? “ tanyanya penasaran. “ Bunda juga dulu sama denganmu sayang, bermain salon salonan dan memotong rambut teman hingga berukuran sangat pendek dan tidak beraturan panjang pendeknya. Mainan kosmetik Ibu (Eyang Putri) hingga lipstik dan bedak hancur bertaburan. Memakai pakaian Ibu yang kedodoran hingga mengacak-acak seluruh isi lemari Ibu.  Berlarian disawah hingga turun dan berenang bersama padi dan petani. Berjualan petasan ketika liburan lebaran dan berlari ketika teman hendak membeli. Berlarian dilapangan, berantem karena membela teman. Hujan-hujanan dan takut pulang.  Indahnya masa kecil Bunda, sama denganmu kan sayang.” Tuturku bahagia.
“Apa...Bunda perah jualan petasan juga” Tanya Ayah penasaran. “Iya Ayah tapii petasannya kembang api lhooo bukan yang berbahaya.” Jawabku. 

“Setiap mendengar petasan teringat masa kecil Bunda dulu. Selain memainkan petasan, Bunda juga jualan petasan. Hmmm...waktu itu umur Bunda baru 8 tahun saat Bunda kelas II SD. Semua itu berkat Ibu. Ibu mendidikku “BERBISNIS” dari kecil. Makanya Bunda sekarang jadi pintar berbisniskan?” tuturku penuh senyum. Sembari kuteguk teh buatan Ayah katanya khusus untukku. Tapi tiba-tiba keempat anak – anakku ikutan nimbrung dan menghabiskan teh hangat yang nikmat itu. “yahhh habis deh, Bunda bikinkan lagi yaa.”

Harapan : Tuhan...bimbinglah aku dan suamiku terus menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami tercinta. Semoga kami bisa menjadi contoh yang baik bagi perkembangan mereka. Amiin Yaa Robb.



No comments:

Post a Comment