Lelaki paruh baya itu Bapakku,
siang ini aku membersihkan kamarnya. Tak sengaja kutemukan secarik kertas yang
tergeletak dibawah tempat tidurnya. Coretan kerinduan akan Ibu yang sudah
hampir 7 tahun berpulang kerumah Allah SWT. Coretan itu begitu menyayat hati
fingga aku yang membacanyapun meneteskan air mata. Kami tidak tahu bahwa
kerinduan ini begitu menyiksanya, karena aku mengenal sosok Bapak adalah lelaki
tegar, kuat dan tidak cengeng, ceritaku pada suami dan anak-anak disore itu.
Sambil minum teh kamipun asyik bercengkerama.
“oh yaaa. Ayah pikir Bapak juga
sudah kuat apalagi kini Bapakkan sudah menikah lagi” Ungkap Ayah. Anak-anak
kamipun terus menyimak. “Aku sayang Eyang” Ungkap Shauqina diiyakan oleh
kakak-kakaknya. “Iya sayang kalian memang harus sayang sama Eyang, pijitin
beliau usai bermain kuda-kudaan, bikin hatinya riang bersama celoteh dan cerita
lucu tentang sekolah dan tempat bermain kalian, peluk dan cium beliau sebelum
Eyang meminta kalian melakukannya. Dan, Doakan Eyang agar Eyang disayang sama
Allah SWT, belajar yang rajin agar Eyang juga bangga karena kalian menjadi
cucunya. Karena rupanya dalam coretan Eyang yang sangat sedih itu, Eyang juga
menuliskan nama-nama kalian yang membuat Eyang bisa tetap tersenyum lho” begitu
aku memberi penjelasan.
“Oh begitu ya Bun, baiklah kami
janji ngga akan bikin Eyan sedih lagi, kami akan nurut sama Eyang. Kami sayang
Eyang>” tutur Kakak Kalle.
“Iya sayang Bunda dan Ayah yakin
kalian anak sholeh, kalian anak Ayah dan Bunda yang hebat” Ungkap Ayah. “Ayooo
kita lanjutkan minum teh Sariwanginya......
Harapan : semoga anakku terus
berbuat kebaikan apapun judul dan tema dari setiap fase kehidupan yang akan
mereka jalani. Lindungi kami Tuhan. Ijinkan kami bahagia, sehat dan penuh
berkah dariMu, Amiin
No comments:
Post a Comment