Siang Itu....
“Hore...Hari Kartini besok tiba Bunda Khalilla dan Abrisam mau pake
baju daerah ya bun,” teriak anak-anakku. Iya sayang sudah Bunda siapin dari
seminggu kemarin dong sayang.” Jawabku. “ Bunda besok besar aku mau jadi Guru
sama kaya Ibu Kartini. “Rajuk Khalilla. “Bunda cerita tentang guru dong.” Pinta
Kakak Kalle. Baiklah Bunda akan cerita salah seorang guru yang sangat
mengispirasi Bunda dengarkan ya sayang.” Sambil ku teguk teh kesukaan
keluargaku.
Waktu itu....Bunda kecil Bertanya pada Guru....
“Pak Guru saya mau bertanya, Apakah Tuhan itu laki
– laki ataukah perempuan?” tanyaku kala
itu. Dengan wajah memerah dan marah Bapak guru
pelajaran agama menghardikku dan berkata “ Namamu siapa, jangan berani-berani bertanya tentang itu,
itu dosa” semenjak itu Bunda tumbuh
menjadi anak yang pemalu dan tidak percaya diri, murung bahkan takut pada guru
siapapun. Waktu itu Bunda masih kelas satu SD, Bunda yang ceria, pemberani dan
senang bertanya tentang banyak hal dan mau berkomunikasi dengan siapapun,
berubah dipagi itu ketika pukul 7.00 pagi bel sekolah tiba dan pelajaran Agama
pun dimulai. Kejadian itu merubah
pribadi Bunda, dari kelas satu hingga kelas tiga SD. Tiga tahun Bunda yang masih belia berkutat
dengan rasa takut dan tidak percaya diri, tapi beruntung. Bunda punya orang tua
dan Guru kelas yang perhatian dan mengamati perubahan yang dialami Bunda kecil
kala itu. Sehingga kelas 3 SD Bunda sudah kembali ceria dan berani bertanya
kepada ibu dan bapak guru disekolah. Bahkan Bunda punya prestasi mewakili
sekolah mengikuti lomba cerdas cermat, puisi, dan menyanyi. Bunda berharap
peristiwa seperti ini tidak terjadi sama kalian, dan jikalaupun akhirnya kalian
mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan, tolong jangan disimpan sendiri,
cerita sama Ayah dan Bunda, cerita pada
orang yang kalian percayai. Bunda ingin kalian tumbuh menjadi anak-anak yang
bahagia, percaya diri dan sehat. Ayah
bersama keempat anak-anakku memeluk dan menciumku erat mendengarkan kisahku ini “BUNDA HEBAT, KAMI
SEMUA SAYANG BUNDA” ucap anak-anakku. “Iya Bunda juga sayang ayah sayang kalian
semua, ayooo kita lanjutkan minum tehnya.” Ajakku pada suami dan
anak-anakku. “
Harapanku adalah : peristiwa ini hanya terjadi
padaku, menjadi pelajaran berharga bagi
para pendidik anak bangsa. Kreativitas, keceerdasan, percaya diri dapat patah
dan tak berkembang dengan baik hanya karena kejadian sepele dan sederhana.
Tidak semua anak beruntung seperti aku sewaktu kecil, hidup bersama orang tua
yang amat memperhatikan perubahan, pertumbuhan dan perkembanganku dengan baik.
Sungguh beruntung orang tua dan wali kelasku menyadari dengan segera perubahan
prilaku dan kepribadianku. Sudah
selayaknya Guru adalah BENAR-BENAR menjadi orang tua kedua setelah orang tua
dan keluarga dirumah, menjalani peran dan fungsinya dengan baik. Mendukung dan
merangsang kecerdasan, kreativitas juga
rasa percaya diri juga rasa ingin tahu anak. Agar anak didik tidak
mendapakan jawaban yang salah juga bertanya pada orang yang salah.
No comments:
Post a Comment