Sunday, 2 August 2015

KETIKA BUNDA KECIL DILARANG BERTANYA TENTANG TUHAN


Siang Itu....
“Hore...Hari Kartini besok tiba Bunda Khalilla dan Abrisam mau pake baju daerah ya bun,” teriak anak-anakku. Iya sayang sudah Bunda siapin dari seminggu kemarin dong sayang.” Jawabku. “ Bunda besok besar aku mau jadi Guru sama kaya Ibu Kartini. “Rajuk Khalilla. “Bunda cerita tentang guru dong.” Pinta Kakak Kalle. Baiklah Bunda akan cerita salah seorang guru yang sangat mengispirasi Bunda dengarkan ya sayang.” Sambil ku teguk teh kesukaan keluargaku.
Waktu itu....Bunda kecil Bertanya pada Guru....

“Pak  Guru saya mau bertanya, Apakah Tuhan itu laki – laki ataukah perempuan?”  tanyaku kala itu. Dengan wajah memerah dan marah Bapak guru  pelajaran agama menghardikku dan berkata “ Namamu siapa,  jangan berani-berani bertanya tentang itu, itu dosa” semenjak itu Bunda  tumbuh menjadi anak yang pemalu dan tidak percaya diri, murung bahkan takut pada guru siapapun. Waktu itu Bunda masih kelas satu SD, Bunda yang ceria, pemberani dan senang bertanya tentang banyak hal dan mau berkomunikasi dengan siapapun, berubah dipagi itu ketika pukul 7.00 pagi bel sekolah tiba dan pelajaran Agama pun dimulai.  Kejadian itu merubah pribadi Bunda, dari kelas satu hingga kelas tiga SD.  Tiga tahun Bunda yang masih belia berkutat dengan rasa takut dan tidak percaya diri, tapi beruntung. Bunda punya orang tua dan Guru kelas yang perhatian dan mengamati perubahan yang dialami Bunda kecil kala itu. Sehingga kelas 3 SD Bunda sudah kembali ceria dan berani bertanya kepada ibu dan bapak guru disekolah. Bahkan Bunda punya prestasi mewakili sekolah mengikuti lomba cerdas cermat, puisi, dan menyanyi. Bunda berharap peristiwa seperti ini tidak terjadi sama kalian, dan jikalaupun akhirnya kalian mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan, tolong jangan disimpan sendiri, cerita sama Ayah  dan Bunda, cerita pada orang yang kalian percayai. Bunda ingin kalian tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia, percaya diri dan sehat.  Ayah bersama keempat anak-anakku memeluk dan menciumku erat  mendengarkan kisahku ini “BUNDA HEBAT, KAMI SEMUA SAYANG BUNDA” ucap anak-anakku. “Iya Bunda juga sayang ayah sayang kalian semua, ayooo kita lanjutkan minum tehnya.” Ajakku pada suami dan anak-anakku. “

Harapanku adalah : peristiwa ini hanya terjadi padaku,  menjadi pelajaran berharga bagi para pendidik anak bangsa. Kreativitas, keceerdasan, percaya diri dapat patah dan tak berkembang dengan baik hanya karena kejadian sepele dan sederhana. Tidak semua anak beruntung seperti aku sewaktu kecil, hidup bersama orang tua yang amat memperhatikan perubahan, pertumbuhan dan perkembanganku dengan baik. Sungguh beruntung orang tua dan wali kelasku menyadari dengan segera perubahan prilaku dan kepribadianku.  Sudah selayaknya Guru adalah BENAR-BENAR menjadi orang tua kedua setelah orang tua dan keluarga dirumah, menjalani peran dan fungsinya dengan baik. Mendukung dan merangsang kecerdasan, kreativitas juga  rasa percaya diri juga rasa ingin tahu anak. Agar anak didik tidak mendapakan jawaban yang salah juga bertanya pada orang yang salah.

No comments:

Post a Comment