Sore
ini diteras depan rumah Abang Abrisam mendekati Ayah dan Bunda yang sedang
asyik minum teh Sariwangi, dia merajuk dan protes “Bunda kenapa kue ini buat
emak, buah ini buat emak, kemarin dan kemarin juga semua buat emak.”
Ungkapnya. Kamipun tersenyum
memandangiya. “ Ada apa sayang kenapa? Dia kan saudara Bunda jadi kita harus
baik donk sama dia.” Ungkap Ayah menasehatinya.
Namanya
Mintari, kami biasa menyebutnya Emak Min, usianya sudah hampir 65 tahun. Sudah dua tahun lebih beliau ikut
dikeluargaku, beliau dicampakkan keluarganya. Secara silsilah persaudaran kami
memang terpaut saudara ipar meski jauh. Tapi hati kami saling dekat.
“kemarilah
nak, Bunda mau cerita sesuatu yang mungkin belum pernah kalian dengar”
ungkapku. “Ketahuilah Emak Min itu sudah ikut membantu Eyang buyut merawat
bunda, dulu waktu kecil bunda digendong dan main kepasar. Karena kurang
hati-hati Bunda terjatuh. Tapi Bunda beruntung karena ada Mak Min yang langsung
menangkap tubuh mungil Bunda sehingga Bunda tidak jadi terjatuh. Justru Mak Min
yang akhirnya terjerembab kedalam selokkan dipasar yang bermau dan berwarna
hitam. Mak Min juga sangat sayang sama Bunda. Jadi sekarang disaat beliau
kesusahan dan tidak punya siapa-siapa
lagi kitalah yang harus menjaganya. “ tuturku dengan mata berkaca.
“Iya
benar sayang, ayah yakin kalian juga anak shaleh, anak baik. Sayangilah beliau
juga ya.” Jelas Ayah.
Akupun
lega kini anak dan suamiku makin sayang pada Mak Min. “Mari kita lanjutkan
ngetehnya....
Harapan : Mendidik anak
akan hal-hal baik rupannya bukan peajaran yang instan, tapi berproses. Semoga
anak-anak kami tumbuh menjadi generasi yang sayang tak hanya pada diri dan
keluarganya tapi pada semua orang.
No comments:
Post a Comment