Kecerdasan kinestetik akan mempunyai pengaruh kepada kecerdasan intelektual
siswa apabila guru mempunyai keberanian menghilangkan cara-cara pengajaran yang
konvensional.Karena dengan masih maraknya pengajaran konvensional, pengembangan
potensi siswa akan kurang maksimal.Guru hanya mentransfer isi buku kepada
siswa.Supaya siswa benar-benar berkembang kinestetiknya,aktivitas kelas
diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan jasmaniah/kinestetik hendaknya
mengandung berbagai kekuatan manipulatif dalam memecahkan masalah-masalah
abstrak.Aktivitas yang memasukkan gerakan fisik, seperti:perjalanan lapangan,
permainan peran/akting, pelatihan mandiri, kerja tim, baik dalam olah raga
maupun permainan akan menstimulasi kecerdasan kinestetik.Aktivitas-aktivitas
kelas memungkinkan siswa bisa mengembangkan dan mempraktikkan kecerdasan
jasmaniah/kinestetik mereka.Seluruh kegiatan dalam pelajaran memberikan peluang
untuk menggunakan dan mengekplorasi aneka gerakan dan menggunakan objek-objek
fisik dalam pembelajaran mereka.
Salah satu aktivitas kelas yang memanfaatkan lingkungan sekitar siswa dan dapat
meningkatkan kecerdasan kinestetik adalah dalam pembelajaran IPS, khususnya
dalam memahami Peta Buta.Untuk lebih memahami peta buta, siswa dapat
memanfaatkan barang-barang tak terpakai, yaitu koran bekas yang digunakan untuk
membuat peta.Siswa akan menggunakan seluruh gerak tangannya untuk membentuk
tumpukan koran yang sudah diproses menjadi bubur kemudian diubahnya menjadi
peta-peta kecil sesuai materi siswa.Pembuatan peta dari koran bekas ini
diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan intelektual siswa.
Dengan bekerja bersama, menggerakkan tubuhnya, siswa akan merasa gembira dalam
belajar.Belajar dengan kegembiraan akan sangat membantu mengembangkan
kecerdasan kinestetik.Kecerdasan kinestetik memberi ciri pada kemampuan untuk
mengontrol dan menafsirkan aneka gerakan tubuhnya sendiri.Siswa yang menikmati
olah raga dan aktivitas fisik, mempunyai pengertian yang bagus tentang arah dan
menggerakkan tubuh mereka dengan pengertian ketepatan waktu yang tajam.Siswa
yang kuat dalam kecerdasan jasmaniah/kinestetik mampu melakukan motorik kecil
dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat,
membongkar, membuat sesuatu, dan mengumpulkan kembali dengan mudah.
Elemen
dasar dari kecerdasan jasmani-kinestetik adalah kemampuan mengendalikan gerakan
tubuh dan kemampuan memainkan obyek dengan terampil. Gardner menjelaskan bahwa
kecerdasan ini juga meliputi ketangkasan. jitu, dan kemampuan melatih respons
hingga menjadi gerak refleks. Anak dengan kendali motorik halus yang baik masuk
dalam kategori cerdas kinestetik. Awalnya, kecerdasan ini dianggap remeh.
Ketika
Gardner pertama kali menyematkan kata kecerdasan
pada kemampuan jasmani, banyak orang yang terkejut. Namun perlahan-lahan,
semakin banyak orang mengakui jenis kecerdasan kinestetik karena
individu-individu yang menciptakan penemuan baru di bidang gerakan olahraga dan
tari semakin sering dijumpai. Anak-anak dengan kecerdasan jasmani-kinestetik
yang menonjol akan menyukai kegiatan-kegiatan fisik, dapat melakukan sesuatu
dengan hanya melihat orang lain melakukannya, serta tidak bisa duduk diam dalam
jangka waktu yang lama. Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya menonjol di
bidang olahraga dan menari.
Ciri-cirinya:
-
Belajar dengan melakukan sesuatu
-
Lebih senang menyentuh dibandingkan sekadar melihat
-
Suka mencari tahu cara kerja sesuatu
-
Menyukai kegiatan luar ruang
-
Tidak bisa duduk diam untuk waktu lama
-
Punya energi fisik yang besar
-
Atletis
Profesi yang cocok untuk anak yang
memiliki kecerdasan kinestetik:
Atlet,
aktor/aktris, penari, instruktur fisik, terapis fisik, mekanik, pemadam
kebakaran, tentara, paramedis.
Kiat Belajar untuk Si
Cerdas Kinestetik
Anak
dengan kecerdasan kinestetik perlu bergerak untuk belajar. Anak-anak ini tidak
bisa belajar dari sekadar mendengar atau melihat sesuatu-mereka perlu
melakukannya. Hal berikut ini dapat membantu proses pembelajaran si cerdas
kinestetik.
1. Mengunyah. Jika anak
diperbolehkan mengunyah permen kenyal di kelas, mungkin hal itu bisa membuat
dia lebih iama diam di tempat duduknya karena dia mulutnya bisa bergerak-gerak.
Namun ajari anak untuk menutup mulut dan tidak mengeluarkan suara saat
mengunyah agar tidak mengganggu teman sekelasnya.
2. Mewarnai. Anak bisa mewarnai
buku catatan pelarajaran atau peta. Kegiatan itu membuat dia tetap sibuk
beraktlvitas yang membuat dia lebih mudah menyerap pelajaran.
3. Mengetik. Dengan menggunakan
komputer atau kalkulator, jari-jari anak selalu bekerja, Dia bisa bereksperimen
dengan bentuk dan warna huruf berbeda saat mengetik di komputer supaya dia lebih
terstimulasi.
4. Berjalan. Beberapa sekolah
punya kelas khusus bagi anak dengan kecerdasan kinestetik. Di sela-sela
pelajaran, mereka boleh berjalan-jalan mengitari ruang kelas. Jika si kecil
sedang belajar di rumah, sesekali dia perlu rehat untuk berjalan-jalan sejenak.
5. Variasi media. Sekali lagi, si
cerdas kinestetik belajar dengan optimal meialui tindakan. Aneka media peraga,
seperti boneka tangan dan percobaan langsung di laboratorium, hingga aktivitas
luar ruang seperti field trip dapat memenuhi kebutulian mereka. Diskusikan hal
ini dengan pihak sekolah.
6. Yo-yo. Mungkin terdengar
aneh, tapi bagi sebagian anak dengan kecerdasan kinestetik, gerakan dan suara
yoyo membuat mereka bisa menyerap informasi lebih baik.
Menurut
Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar
pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini
mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi
delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.
Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.
Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.
Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."
Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.
Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.
Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.
Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.
Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.
Info Kecerdasan Kinestetik
Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.
Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.
Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.
Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.
Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.
Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com
7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.
Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.
Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."
Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.
Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.
Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.
Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.
Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.
Info Kecerdasan Kinestetik
Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.
Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.
Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.
Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.
Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.
Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com
7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
- Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
- Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
- Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
- Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
- Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
- Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
- Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.
No comments:
Post a Comment