Memberikan
hukuman anak agar menjadi jera terhadap perilaku buruk anak merupakan salah
satu solusi yang bisa dilakukan orang tua, tetapi hukuman tersebut tidak harus
bersifat fisik atau kekerasan seperti pukulan, cubitan, cambukan atau hal lain
yang malah membuat anak bertindak lebih kasar. Berikan hukuman dengan cara yang
bijak dengan pilihan hukuman mendidik untuk anak, seperti memberikan larangan
terhadap hal-hal yang dia sukai ketika sang anak melakukan suatu pelanggaran,
seperti mengurangi jatah bermain anak atau jatah menonton kartun kesayangannya
atau memberikan anak tugas tertentu dengan memberikan pengujian setelahnya,
seperti memberi tugas membaca buku dan sang anak harus bisa menceritakan
kembali isinya serta mengambil hikmah dari bacaan tersebut.
Menghadapi
anak memang membutuhkan kesabaran dan pengertian. Hukuman untuk anak sangat
dilarang menggunakan cara-cara kasar bahkan ditambah hardikan dengan memberikan
cap negatif pada anak, seperti “anak bandel”. Sebab metode tersebut akan
menanamkan keyakinan yang lebih kuat pada si anak terhadap sikap sarkasme,
jangan sampai anak berpikiran bahwa sikap kasar dapat dibenarkan untuk
meyakinkan orang lain mengikuti kehendak mereka. Memberikan penjelasan yang
lebih komunikatif dan masuk akal secara intens akan melatih anak berpikir
mengenai tindakan yang baik dan buruk, mampu membedakan tindakan yang wajar dan
tidak wajar, serta perbuatan yang sopan dan tidak sopan maupun tindakan
menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi orang lain.
Ketika
anak telah mampu membedakan secara jelas hal tersebut di atas, maka sebagai
orang tua Anda dapat disebut telah berhasil mengambil pilihan hukuman yang
mendidik untuk anak, hal tersebut akan tergambar pada perilaku anak yang lebih
baik, terarah, dan mudah memahami orang lain.
Anda
tentu ingin membesarkan anak-anak yang bahagia, tetapi juga ingin memiliki anak
yang pandai, jujur, dan murah hati. Idealnya, sebagai orangtua kita akan
mengajarkan semua hal itu pada anak. Namun, melakukan hal tersebut terbilang
cukup sulit. Anak-anak memiliki pemikiran-pemikiran sendiri, dan mereka ingin
melihat dan mencoba berbagai hal baru. Ketika mencoba berbagai hal baru,
seringkali mereka melanggar aturan-aturan yang kita ciptakan. Sebagai orangtua,
kita dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan antara merawat dan mencintai
anak, dan memberikan hukuman ketika mereka berbuat salah.
Sampai
sekarang, masih banyak orangtua yang masih belum mampu menyeimbangkan kedua hal
tersebut. Mereka lebih banyak memberikan hukuman pada anak-anak, baik secara
fisik maupun verbal. Menurut beberapa penelitian yang pernah dilakukan, ketika
anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan hukuman fisik dan verbal,
mereka akan memiliki masalah perilaku ketika dewasa.
Sebuah
studi berjudul Issue of Child Development yang dilakukan oleh Victoria Talwar
dan Kang Lee pada bulan November 2011 lalu menjelaskan bahwa anak-anak usia 3-4
tahun yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan hukuman akan membuat
mereka lebih sering berbohong. Studi disusun berdasarkan penelitian yang
melibatkan murid sekolah di Afrika Barat, negara yang memiliki sejarah dimana
para murid mengalami kekerasan dan hukuman fisik. Penelitian ini memilih sampel
dari sekolah swasta yang masih menerapkan hukuman fisik, dan sekolah swasta
lain yang tidak menggunakan hukuman fisik.
Untuk
mengetahui teori kebohongan tersebut, anak-anak diberitahu mengenai mainan yang
disembunyikan di sebuah ruangan. Mereka tidak boleh masuk ataupun mengintip ke
ruangan tersebut. Situasi ini cukup menggoda, dan membuat kebanyakan anak-anak
akhirnya berbalik masuk dan mengintip mainan tersebut. Hasilnya, di sekolah
swasta yang menerapkan sistem hukuman fisik, sekitar 90 persen anak berbohong
dan mengatakan bahwa mereka tidak melihat mainan tersebut. Sedangkan di sekolah
yang tidak menggunakan hukuman fisik ini, hanya setengah dari mereka yang
berbohong.
Pada
penelitian ini, anak-anak juga diminta untuk menebak jenis mainan tersebut.
Anak-anak yang tidak terbiasa berbohong akan menjelaskan ciri mainan tersebut,
sedangkan anak-anak yang biasa berbohong karena takut dihukum tidak menjelaskan
tipe dan ciri mainan tersebut. Dalam studi ini, 70 persen anak dari sekolah
yang tidak menggunakan hukuman berat menjelaskan dengan tepat mainan yang
lihat, dan hanya sekitar 30 persen dari siswa sekolah yang memberi hukuman yang
menjelaskan ciri mainan dengan tepat.
Melalui
penelitian ini terlihat bahwa anak-anak yang mendapatkan hukuman keras lebih
cenderung untuk berbohong dibandingkan yang jarang mendapatkan hukuman keras.
Hukuman yang sering diterima anak pada akhirnya akan membuat anak-anak belajar
keterampilan untuk bertahan hidup. Dalam situasi di mana mereka sering dihukum
berat, anak-anak belajar untuk menghindari hukuman tersebut. Mereka belajar
bagaimana untuk berbohong dan bagaimana melakukannya dengan efektif.
Penelitian
ini memberikan gagasan, sebaiknya seimbangkan antara hukuman dengan kasih
sayang terhadap anak. Meskipun pada dasarnya hukuman diberikan dengan tujuan
untuk mendidik anak, namun sebaiknya beri peringatan.
No comments:
Post a Comment