Friday, 13 December 2013

DAMPAK TONTONAN TELEVISI UNTUK ANAK



Dampak yang timbul untuk anak televisi.menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat terungkap bahwa televisi ternyata cuma bagus untuk ditonton pada anak-anak dengan rentang usia tertentu. Pada anak di bawah usia tiga tahun, dampak negatif televisi justru lebih terasa. Terbukti tayangan televisi dapat menurunkan kemampuan membaca, membaca komprehensif, bahkan penurunan memori pada anak. 

Batita yang terlalu sering menonton televisi akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembangnya. Sebab, televisi cuma menyodorkan stimulasi satu arah. Dampak sinar biru pada Televisi memancarkan sinar biru yang juga dihasilkan oleh matahari. Namun sinar biru ini berbeda dengan sinar ultra violet. Sinar biru tak membuat mata mengedip secara otomatis. Namun parahnya, sinar biru langsung masuk ke retina tanpa filter. Panjang gelombang cahaya yang dihasilkan adalah 400-500nm sehingga berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan melukai fotokimia pada retina mata anak.

Sepuluh tahun kemudian saat anak sudah dewasa, kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar biru terlihat amat jelas. Retina mata tak lagi bening sehat seperti masa kanak-kanak sehingga kemampuan berfungsinya pun menjadi juga berkurang.

Dampak yang timbul terhadap psikologis si anak.
Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini.Hhampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. 

Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur. Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program Acara Pendidikan.

 Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan televisi yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di televisi membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah.
Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005). Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.

Di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang “aneh-aneh” tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.

Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu.

Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. 

Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.Tidak ada suatu hal pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak kecuali alam bawah sadarnya yang sudah dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali disiarkan di televisi. Seperti contohnya seorang anak yang meninggal akibat bermain “smack down”. Sehingga tanpa pengawasan orang tua, televisi dapat berbahaya bagi anak-anak, dalam cara pikir, perilaku, kebiasaanya. Hali ini akan berpengaruh terhadap pembentukan watak anak tersebut hingga ia dewasa nanti. Bagaimanapun, televisi  merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa memberi pengaruh positif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting, mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton televisi. karena anak usia ini sedang dalam tahap mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan teman-temannya. Karena itu jangan jadikan televisi sebagai pengganti bentuk bermain. Menonton TV itu cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah.
Berbeda jika ia bermain dengan teman-temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Sehingga ada timbal-balik, belajar saling memberi. Serta peran orang tua yang harus selalu mendampingi anak-anaknya dalam menonton TV

Bagaimana penjelasan kesehatan mengenai masalah televisi pada anak? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Public Health England, menunjukkan bahwa televisi benar-benar sangat berpengaruh pada jiwa dan mental anak, khususnya dalam menurunkan masalah kemurungan dan kecemasan. Efek Televisi dan Kemurungan Kecemasan Anak tv berpengaruh pada anak suka cemas dan minder Menurut peneliti studi ini, semakin lama seorang anak menghabiskan waktunya di depan televisi maupun komputer maka semakin tinggi tingkat gangguan kecemasan (anxiety) yang dilaporkan dari anak-anak ini.

Selain menyebabkan obesitas, gaya hidup tak sehat akibat berlama-lama di depan televisi juga patut disalahkan karena telah memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak-anak, termasuk mengakibatkan kurang percaya diri, rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri, serta rendahnya tingkat kebahagiaan yang dirasakan anak-anak. Mereka juga dikatakan mengalami gangguan emosional dan depresi yang tinggi.

Studi ini kemudian dimanfaatkan Public Health England untuk mengkampanyekan pentingnya peranan orangtua dalam rangka mengubah pola makan dan aktivitas fisik anak-anaknya. Kampanye bertajuk The Smart Restart ini juga menyertakan tips untuk mengurangi waktu yang dihabiskan anak di depan televisi, mendorong anak agar mau berangkat sekolah dengan jalan kaki dan makan siang dengan menu yang sehat. "Banyak faktor kompleks yang mempengaruhi kesejahteraan seorang anak, misalnya dari lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka dan kehidupan sosialnya, kondisi finansial serta kondisi keluarganya," terang Profesor Kevin Fenton, direktur divisi kesehatan dan kesejahteraan anak dari Public Health England, seperti dikutip dari Healthday, Rabu (28/8/2013).

"Tapi ada juga hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan bersama anak setiap hari untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraannya. Dan kampanye Smart Restart ini bertujuan memberi inspirasi dan sarana bagi keluarga untuk mencapai target tersebut," tambahnya. Secara spesifik direktur komunikasi, kebijakan dan kampanye dari The Children's Society, Lil Caprani menimpali bahwasanya dalam Good Childhood Report yang mereka buat setelah melakukan sejumlah interviu langsung dengan anak-anak tentang apakah yang membuat mereka 'sejahtera', peneliti menemukan adanya keterkaitan yang kuat antara keaktifan fisik dan kebahagiaan. "Aktivitas seperti bersepeda, berenang atau bermain sepakbola jelas membuat anak sehat dan bahagia, tapi bahkan hal-hal sederhana seperti jalan-jalan saja sudah dikaitkan dengan tingginya tingkat kesejahteraan pada anak," tutupnya.

Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan hubungan lama menonton televisi dengan perilaku antisosial. Di Universitas Glasgow, peneliti menemukan bahwa “menonton televisi, video, atau DVD selama 3 jam atau lebih sehari berhubungan dengan peningkatan masalah perilaku antara usia 5 sampai 7 tahun.” Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel 11,000 anak yang lahir antara tahun 2000 hingga 2002. Gangguan perilaku yang dimaksud adalah perilaku antisosial seperti berkelahi, bulliying atau permusuhan.

Pada penelitian yang dipublikasikan pada tanggal 25 Maret 2013 di Archives of Disease in Childhood ini, para ibu dari anak-anak yang berusia 5 sampai 7 tahun diberikan sebuah kuesioner yang mengukur masalah perilaku, gejala emosional, gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas, kesulitan berteman, dan empati terhadap orang lain (yang dinilai sebagai perilaku pro-social). Mereka juga ditanyakan berapa sering anak menonton televisi atau bermain komputer dan video games pada usia 5 tahun.

Senada dengan hasil tersebut, sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan di Selandia Baru terhadap 1000 anak yang lahir di Dunedin, Selandia Baru pada tahun 1972 dan 1973 menunjukkan hubungan lamanya menonton televisi dengan perilaku antisosial dan kriminal saat anak-anak tersebut dewasa. Dr. Bob Hancox dan koleganya menemukan adanya peningkatan risiko sesorang melakukan tindakan kriminal sebanyak 30% dengan setiap jam yang dilalui dengan menonton televisi.
Studi tersebut juga menemukan bahwa anak-anak yang lebih banyak menonton televisi memiliki peningkatan kecenderungan memiliki emosi negatif dan peningkatan risiko gangguan kepribadian antisosial. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada jurnal bergengsi Pediatrics bulan Maret 2013.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pembatasan waktu menonton televisi pada anak yaitu 1 – 2 jam per hari. Orangtua juga perlu memperhatikan konten acara televisi yang ditonton. Kedua penelitian tersebut memang hanya menunjukkan hubungan asosiasi dan bukan sebab-akibat. Namun, hasil penelitian-penelitian yang disebutkan di atas mendukung rekomendasi AAP agar orangtua membatasi dan mengawasi waktu menonton televisi setiap harinya.



DAFTAR PUSTAKA


No comments:

Post a Comment