EFEK MENGHISAP JARI DAPAT MENURUNKAN KECERDASAN PADA ANAK
Banyak orangtua yang menganggap kebiasaan bayi mengisap jari adalah kebiasaan buruk. Bahkan bagi sebagian orangtua, kebiasaan tersebut dinilai nantinya dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak.
Faktanya: Sebenarnya hal yang wajar bila bayi mengisap jarinya. Setiap bayi normal pasti akan melakukan itu, terlebih bagi bayi yang baru lahir hingga usia 3 bulan. Hal ini malah menunjukkan bayi anda sehat dan normal karena adanya gerak isap sudah seharusnya dimiliki bayi sejak lahir.
Bayi mengisap jari bisa dikarenakan keadaan psikologisnya, misalnya lapar dan haus. Masalah timbul karena banyak orangtua risih melihat bayinya mengisap jari. Lantas, mereka memberikan empeng dengan harapan bayi akan berhenti mengisap jarinya. Padahal, cara ini adalah cara yang salah. Empeng akan menyebabkan . Hal ini disebabkan banyaknya udara yang masuk ke perut bayi.
Memang, kebiasaan bayi mengisap jari bisa berdampak pada tumbuhnya gigi dan gusi karena permukaan jari cukup keras. Namun, Anda tak perlu cemas karena kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya. Jadi, Anda tak perlu memaksakan bayi Anda untuk tidak mengisap jari. Apalagi sampai menarik jari bayi Anda keluar dari mulutnya. Hal ini dapat menimbulkan frustasi pada si bayi. Kemudian, ia akan mengisap jarinya untuk menghilangkan rasa frustasi. Sampai usia 7 bulan, kebiasaan bayi mengisap jarinya masih dianggap wajar.
MELIHAT
seorang bayi mungil yang sedang asyik menghisap jempol, rasanya menggemaskan
sekali. Kebiasaan ini muncul secara alami, tanpa perlu diajari oleh siapa pun.
Tapi bagaimana jika kebiasaan ini terus dilakukan hingga si kecil mulai
beranjak tumbuh besar?
Sigmund Freud,
tokoh psikologi perkembangan yang kondang, dalam salah satu teorinya mengatakan
bahwa menghisap atau fase oral
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia untuk perkembangan
pribadinya. Fase oral,
dimulai dari usia 0-18 bulan. Karena bayi lahir dalam keadaan tidak berdaya
–tidak mandiri dan tidak bisa mencari makan sendiri- maka dia membutuhkan waktu
untuk bisa percaya kepada dunia sekitarnya. Kepercayaan itu tumbuh dan
berkembang dari rasa nyaman yang dia dapatkan.Dari keterangan di atas, maka Mama tidak perlu risau dengan anak yang mengisap jempol. Wajar, normal, bahkan dibutuhkan untuk memenuhi fase perkembangan psikologinya. Akan tetapi, kerisauan tersebut pantas muncul jika kebiasaan menghisap jempol berkepanjangan atau sampai di atas 5 tahun.
Kebiasan menghisap jempol yang berkepanjangan akan menyebabkan maloklusi (gigi dan rahang dalam posisi yang tidak normal). Jika dibiarkan terus maka gigi anak dapat menjadi maju, atau dapat terjadi juga open bite yaitu saat rahang dikatupkan gigi belakang atas dan bawah sudah berkontak namun gigi depan atas dan bawah tetap terbuka. Mama juga harus risau jika dokter anak dan dokter gigi menyatakan kekhawatirannya pada kebiasaan menghisap jempol.
Di usia 1 atau 2 tahun, anak terlihat lucu ketika menghisap jarinya. Kini, saatnya untuk memisahkan si prasekolah Anda dengan kebiasaannya ini. Ya, kebiasaan ini bisa menghambat keterampilan bicaranya akibat posisi gigi dan lidah yang salah.
“Sebenarnya, kebanyakan anak yang menghisap jari ingin berhenti melakukannya, namun tidak tahu bagaimana caranya,” kata Shari Green, terapis di Chicago.
Ada tanda-tandanya, kok, seperti ia menduduki tangannya atau memilih menyibukkan dirinya dengan berolahraga atau bermain dengan temannya. “Banyak anak yang tahu bahwa mereka tidak seharusnya menghisap jarinya. Tapi, begitu merasa sedih, mereka menggunakan jari untuk menenangkan dirinya. Akibatnya, mereka merasa semakin bersalah,” katanya.
Berikut
ini fakta mengenai kebiasaan menghisap jempol, sekaligus cara-cara
menghilangkan kebiasaan yang menggemaskan, namun memiliki efek samping ini.
1.
Menghisap jempol membuat si kecil merasa nyaman
Menghisap
jempol merupakan insting alamiah seorang anak. Awalnya kebiasaan ini muncul
untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Jika dilihat melalui ultrasound, bayi
dalam perut kadang terlihat tengah asyik menghisap ibu jari. Hal ini dilakukannya
untuk memperoleh perasaan rileks, serta untuk menenangkan diri sendiri.
2.
Berhenti di usia 5-6 tahun
Tidak
semua balita gemar menghisap jempol. Sebuah penelitian menyebutkan, 50 persen
anak tak punya kebiasaan ini. Bagi yang terlanjur memulai kebiasaan menghisap
ibu jari, 85 persen di antaranya meninggalkan kebiasaan buruk ini.
3.
Dorongan lingkungan
Sebagian
besar anak berhenti mengemut jempol di usia taman kanak-kanak karena malu
melihat teman-temannya yang tidak memiliki kebiasaan ini. Tak sedikit pula yang
bahkan menjadi bahan ejekan, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.
4.
Beresiko pada pembentukan gigi
Jika
kebiasaan menghisap ibu jari berlanjut hingga di atas usia 5 tahun dan cukup
intensif, dapat menyebabkan gigi seri atas dan bawah tidak berkembang seperti
semestinya. Gigi bagian atas dapat terdorong melampaui batas tumbuhnya dan
membuat si kecil menjadi tonggos.
5.
Salah pengucapan
Jika
gigi tumbuh pada posisi yang tidak seharusnya, dapat berpengaruh pada cara si
kecil berbicara. Adanya salah pengucapan pada kata-kata atau huruf tertentu,
bahkan membuat si kecil menjadi cadel.
Orang
Tua Sering khawatir akan dampak akibat kebiasaan Anak yang terus menerus
menghisap jempol. Untuk Orang Tua yang memiliki Problem tersebut berikut
informasi mengenai 8 Cara Jitu Menghilangkan Kebiasaan Anak Menghisap Jempol :
Cara
Menghilangkan Kebiasaan Isap Jempol Anak :
1.
Berikan Mainan Anak
Dengan
memberikan mainan pada Anak yang memiliki kebiasaan isap jempol tentunya
Kebiasaan Anak menghisap jempol akan teralihkan sehingga lambat laun si Balita
akan menghilangkan kebiasaan tersebut.
2.
Hindari Memarahi Anak
Dalam
hal ini Orangtua diingatkan untuk tidak memarahi atau hukuman anak. Karena anak
akan semakin menolak, mengingat dan sulit untuk menghentikan kebiasaan Isap
Jempol.
3.
Melatih Anak Sejak Dini
Latihlah
sang buah hati sejak bayi dengan bermain seperti bertepuk tangan sambil
bernyanyi dan lain-lain. Hal tersebut akan menghindarkan atau mengurangi sang
balita menghisap jempol.
4.
Selalu Ingatkan Buah Hati
Selalu
ingatkan Buah Hati agar tidak menghisap jempolnya. Berikan Prestasi pada sang
Anak jika sang anak mampu menahan kebiasaan menghisap Jempol.
5.
Alihkan perhatiannya
Menghisap
ibu jari biasanya dilakukan jika anak tengah bosan atau tak ada yang bisa
dilakukan, juga saat tangannya “bebas”, tak menggenggam apapun. Jika buah hati
Anda mulai menunjukkan tanda-tanda akan kembali mengemut ibu jarinya, segera
alihkan perhatiannya dengan memberinya mainan yang dapat digenggam atau genggam
kedua tangannya.
6.
Beri batasan tempat
Jika
anak belum mampu melepaskan kebiasaannya, biarkan saja, tapi hanya di saat-saat
tertentu. Hanya di rumah atau di kamarnya sendiri, misalnya. Buat perjanjian
dengan si kecil untuk tidak menunjukkan kebiasaannya di depan umum.
7.
Pujian lebih baik dari hukuman
Jika
buah hati Anda menunjukkan keseriusannya untuk berhenti menghisap jempol,
jangan ragu untuk memujinya. Pujian membuat si kecil semakin termotivasi,
berbeda jika Anda menerapkan hukuman keras yang hanya akan membuat anak menjadi
takut, trauma, atau berontak.
No comments:
Post a Comment