Friday, 13 December 2013

Peran Kecerdasan Kinestetik Terhadap Kecerdasan Intelektual



            Kecerdasan kinestetik akan mempunyai pengaruh kepada kecerdasan intelektual siswa apabila guru mempunyai keberanian menghilangkan cara-cara pengajaran yang konvensional.Karena dengan masih maraknya pengajaran konvensional, pengembangan potensi siswa akan kurang maksimal.Guru hanya mentransfer isi buku kepada siswa.Supaya siswa benar-benar berkembang kinestetiknya,aktivitas kelas diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan jasmaniah/kinestetik hendaknya mengandung berbagai kekuatan manipulatif dalam memecahkan masalah-masalah abstrak.Aktivitas yang memasukkan gerakan fisik, seperti:perjalanan lapangan, permainan peran/akting, pelatihan mandiri, kerja tim, baik dalam olah raga maupun permainan akan menstimulasi kecerdasan kinestetik.Aktivitas-aktivitas kelas memungkinkan siswa bisa mengembangkan dan mempraktikkan kecerdasan jasmaniah/kinestetik mereka.Seluruh kegiatan dalam pelajaran memberikan peluang untuk menggunakan dan mengekplorasi aneka gerakan dan menggunakan objek-objek fisik dalam pembelajaran mereka.
            Salah satu aktivitas kelas yang memanfaatkan lingkungan sekitar siswa dan dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik adalah dalam pembelajaran IPS, khususnya dalam memahami Peta Buta.Untuk lebih memahami peta buta, siswa dapat memanfaatkan barang-barang tak terpakai, yaitu koran bekas yang digunakan untuk membuat peta.Siswa akan menggunakan seluruh gerak tangannya untuk membentuk tumpukan koran yang sudah diproses menjadi bubur kemudian diubahnya menjadi peta-peta kecil sesuai materi siswa.Pembuatan peta dari koran bekas ini diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan intelektual siswa.
            Dengan bekerja bersama, menggerakkan tubuhnya, siswa akan merasa gembira dalam belajar.Belajar dengan kegembiraan akan sangat membantu mengembangkan kecerdasan kinestetik.Kecerdasan kinestetik memberi ciri pada kemampuan untuk mengontrol dan menafsirkan aneka gerakan tubuhnya sendiri.Siswa yang menikmati olah raga dan aktivitas fisik, mempunyai pengertian yang bagus tentang arah dan menggerakkan tubuh mereka dengan pengertian ketepatan waktu yang tajam.Siswa yang kuat dalam kecerdasan jasmaniah/kinestetik mampu melakukan motorik kecil dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat, membongkar, membuat sesuatu, dan mengumpulkan kembali dengan mudah.

Elemen dasar dari kecerdasan jasmani-kinestetik adalah kemampuan mengendalikan gerakan tubuh dan kemampuan memainkan obyek dengan terampil. Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan ini juga meliputi ketangkasan. jitu, dan kemampuan melatih respons hingga menjadi gerak refleks. Anak dengan kendali motorik halus yang baik masuk dalam kategori cerdas kinestetik. Awalnya, kecerdasan ini dianggap remeh.

Ketika Gardner pertama kali menyematkan kata kecerdasan pada kemampuan jasmani, banyak orang yang terkejut. Namun perlahan-lahan, semakin banyak orang mengakui jenis kecerdasan kinestetik karena individu-individu yang menciptakan penemuan baru di bidang gerakan olahraga dan tari semakin sering dijumpai. Anak-anak dengan kecerdasan jasmani-kinestetik yang menonjol akan menyukai kegiatan-kegiatan fisik, dapat melakukan sesuatu dengan hanya melihat orang lain melakukannya, serta tidak bisa duduk diam dalam jangka waktu yang lama. Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya menonjol di bidang olahraga dan menari.

Ciri-cirinya:
- Belajar dengan melakukan sesuatu
- Lebih senang menyentuh dibandingkan sekadar melihat
- Suka mencari tahu cara kerja sesuatu
- Menyukai kegiatan luar ruang
- Tidak bisa duduk diam untuk waktu lama
- Punya energi fisik yang besar
- Atletis

Profesi yang cocok untuk anak yang memiliki kecerdasan kinestetik:
Atlet, aktor/aktris, penari, instruktur fisik, terapis fisik, mekanik, pemadam kebakaran, tentara, paramedis.

Kiat Belajar untuk Si Cerdas Kinestetik
Anak dengan kecerdasan kinestetik perlu bergerak untuk belajar. Anak-anak ini tidak bisa belajar dari sekadar mendengar atau melihat sesuatu-mereka perlu melakukannya. Hal berikut ini dapat membantu proses pembelajaran si cerdas kinestetik.

1. Mengunyah. Jika anak diperbolehkan mengunyah permen kenyal di kelas, mungkin hal itu bisa membuat dia lebih iama diam di tempat duduknya karena dia mulutnya bisa bergerak-gerak. Namun ajari anak untuk menutup mulut dan tidak mengeluarkan suara saat mengunyah agar tidak mengganggu teman sekelasnya.

2. Mewarnai. Anak bisa mewarnai buku catatan pelarajaran atau peta. Kegiatan itu membuat dia tetap sibuk beraktlvitas yang membuat dia lebih mudah menyerap pelajaran.

3. Mengetik. Dengan menggunakan komputer atau kalkulator, jari-jari anak selalu bekerja, Dia bisa bereksperimen dengan bentuk dan warna huruf berbeda saat mengetik di komputer supaya dia lebih terstimulasi.

4. Berjalan. Beberapa sekolah punya kelas khusus bagi anak dengan kecerdasan kinestetik. Di sela-sela pelajaran, mereka boleh berjalan-jalan mengitari ruang kelas. Jika si kecil sedang belajar di rumah, sesekali dia perlu rehat untuk berjalan-jalan sejenak.

5. Variasi media. Sekali lagi, si cerdas kinestetik belajar dengan optimal meialui tindakan. Aneka media peraga, seperti boneka tangan dan percobaan langsung di laboratorium, hingga aktivitas luar ruang seperti field trip dapat memenuhi kebutulian mereka. Diskusikan hal ini dengan pihak sekolah. 

6. Yo-yo. Mungkin terdengar aneh, tapi bagi sebagian anak dengan kecerdasan kinestetik, gerakan dan suara yoyo membuat mereka bisa menyerap informasi lebih baik.


Menurut Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.

Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com

7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
  • Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
  • Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
  • Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
  • Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
  • Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
  • Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
  • Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.

EFEK HUKUMAN BAGI ANAK



Memberikan hukuman anak agar menjadi jera terhadap perilaku buruk anak merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan orang tua, tetapi hukuman tersebut tidak harus bersifat fisik atau kekerasan seperti pukulan, cubitan, cambukan atau hal lain yang malah membuat anak bertindak lebih kasar. Berikan hukuman dengan cara yang bijak dengan pilihan hukuman mendidik untuk anak, seperti memberikan larangan terhadap hal-hal yang dia sukai ketika sang anak melakukan suatu pelanggaran, seperti mengurangi jatah bermain anak atau jatah menonton kartun kesayangannya atau memberikan anak tugas tertentu dengan memberikan pengujian setelahnya, seperti memberi tugas membaca buku dan sang anak harus bisa menceritakan kembali isinya serta mengambil hikmah dari bacaan tersebut.
Menghadapi anak memang membutuhkan kesabaran dan pengertian. Hukuman untuk anak sangat dilarang menggunakan cara-cara kasar bahkan ditambah hardikan dengan memberikan cap negatif pada anak, seperti “anak bandel”. Sebab metode tersebut akan menanamkan keyakinan yang lebih kuat pada si anak terhadap sikap sarkasme, jangan sampai anak berpikiran bahwa sikap kasar dapat dibenarkan untuk meyakinkan orang lain mengikuti kehendak mereka. Memberikan penjelasan yang lebih komunikatif dan masuk akal secara intens akan melatih anak berpikir mengenai tindakan yang baik dan buruk, mampu membedakan tindakan yang wajar dan tidak wajar, serta perbuatan yang sopan dan tidak sopan maupun tindakan menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi orang lain.
Ketika anak telah mampu membedakan secara jelas hal tersebut di atas, maka sebagai orang tua Anda dapat disebut telah berhasil mengambil pilihan hukuman yang mendidik untuk anak, hal tersebut akan tergambar pada perilaku anak yang lebih baik, terarah, dan mudah memahami orang lain.
Anda tentu ingin membesarkan anak-anak yang bahagia, tetapi juga ingin memiliki anak yang pandai, jujur, dan murah hati. Idealnya, sebagai orangtua kita akan mengajarkan semua hal itu pada anak. Namun, melakukan hal tersebut terbilang cukup sulit. Anak-anak memiliki pemikiran-pemikiran sendiri, dan mereka ingin melihat dan mencoba berbagai hal baru. Ketika mencoba berbagai hal baru, seringkali mereka melanggar aturan-aturan yang kita ciptakan. Sebagai orangtua, kita dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan antara merawat dan mencintai anak, dan memberikan hukuman ketika mereka berbuat salah.
Sampai sekarang, masih banyak orangtua yang masih belum mampu menyeimbangkan kedua hal tersebut. Mereka lebih banyak memberikan hukuman pada anak-anak, baik secara fisik maupun verbal. Menurut beberapa penelitian yang pernah dilakukan, ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan hukuman fisik dan verbal, mereka akan memiliki masalah perilaku ketika dewasa.
Sebuah studi berjudul Issue of Child Development yang dilakukan oleh Victoria Talwar dan Kang Lee pada bulan November 2011 lalu menjelaskan bahwa anak-anak usia 3-4 tahun yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan hukuman akan membuat mereka lebih sering berbohong. Studi disusun berdasarkan penelitian yang melibatkan murid sekolah di Afrika Barat, negara yang memiliki sejarah dimana para murid mengalami kekerasan dan hukuman fisik. Penelitian ini memilih sampel dari sekolah swasta yang masih menerapkan hukuman fisik, dan sekolah swasta lain yang tidak menggunakan hukuman fisik.
Untuk mengetahui teori kebohongan tersebut, anak-anak diberitahu mengenai mainan yang disembunyikan di sebuah ruangan. Mereka tidak boleh masuk ataupun mengintip ke ruangan tersebut. Situasi ini cukup menggoda, dan membuat kebanyakan anak-anak akhirnya berbalik masuk dan mengintip mainan tersebut. Hasilnya, di sekolah swasta yang menerapkan sistem hukuman fisik, sekitar 90 persen anak berbohong dan mengatakan bahwa mereka tidak melihat mainan tersebut. Sedangkan di sekolah yang tidak menggunakan hukuman fisik ini, hanya setengah dari mereka yang berbohong.
Pada penelitian ini, anak-anak juga diminta untuk menebak jenis mainan tersebut. Anak-anak yang tidak terbiasa berbohong akan menjelaskan ciri mainan tersebut, sedangkan anak-anak yang biasa berbohong karena takut dihukum tidak menjelaskan tipe dan ciri mainan tersebut. Dalam studi ini, 70 persen anak dari sekolah yang tidak menggunakan hukuman berat menjelaskan dengan tepat mainan yang lihat, dan hanya sekitar 30 persen dari siswa sekolah yang memberi hukuman yang menjelaskan ciri mainan dengan tepat.
Melalui penelitian ini terlihat bahwa anak-anak yang mendapatkan hukuman keras lebih cenderung untuk berbohong dibandingkan yang jarang mendapatkan hukuman keras. Hukuman yang sering diterima anak pada akhirnya akan membuat anak-anak belajar keterampilan untuk bertahan hidup. Dalam situasi di mana mereka sering dihukum berat, anak-anak belajar untuk menghindari hukuman tersebut. Mereka belajar bagaimana untuk berbohong dan bagaimana melakukannya dengan efektif.
Penelitian ini memberikan gagasan, sebaiknya seimbangkan antara hukuman dengan kasih sayang terhadap anak. Meskipun pada dasarnya hukuman diberikan dengan tujuan untuk mendidik anak, namun sebaiknya beri peringatan.

GAMBARAN PSIKOLOGIS ANAK SENSITIF



Anak sensitif umumnya memiliki ciri-ciri, seperti mereka sangat mudah terganggu oleh situasi sekitarnya yang tidak sesuai dengan harapannya.

Perasaan ini ditunjukkan dengan sikapnya yang mudah menangis, mengambek, dan sebagainya. Anak yang sensitif umumnya menunjukkan reaksi yang berlebihan bila tidak mendapatkan keinginannya atau menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. “Misalnya, seperti mereka mudah marah ketika mendengar adik menangis atau marah ketika diingatkan orang tua untuk mengerjakan tugas sehari-hari.

Anak yang sensitif memiliki penyebab beragam, misalnya karakteristik atau sifat dari anak tersebut. Namun, selain karakteristik yang sudah ada dalam sifat anak, ternyata temperamen anak juga dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan orang tua. Orang tua yang terampil dan sabar dalam mengasuh anak dapat memberikan reaksi yang tepat ketika menghadapi anak yang sedang membutuhkan perhatian mereka.

Apabila orang tua bertindak demikian, maka anak akan merasa tenang dan dapat menerapkan keterampilan yang diajarkan orang tuanya ketika anak menghadapi persoalan sehari-hari. Namun, apabila orang tua yang terlalu melindungi dapat menghambat anak untuk belajar menghadapi permasalahannya secara mandiri sehingga cenderung kurang matang dalam menunjukkan emosi maupun reaksinya terhadap masalah yang ada.

Untuk itu, jika anak sensitif dibesarkan di lingkungan yang tidak memahaminya dan memberikan tekanan-tekanan yang membuatnya mudah terbawa emosi, maka dapat berdampak buruk bagi perkembangan emosi anak di kemudian hari. Segera tangani dengan tepat apabila anak anda memiliki sifat sensitif karena bisa-bisa mereka menemukan kendala ketika bersosialisasi di lingkungannya.

Misalnya, waktu ada temannya mengajak bergurau, ternyata anak sensitif menyikapinya dengan reaksi yang tidak tepat dan merasa teman tersebut meledeknya atau ingin menyakiti hatinya. Sikap sensitif juga terlihat melalui kecenderungan anak untuk mudah merasa tersinggung atau terbawa emosi ketika teman tidak memberikan reaksi yang diinginkannya.

Apabila sifat sensitif tersebut tidak ditangani dengan tepat maka dapat terbawa hingga mereka dewasa. Karena itu,peran orang tua dan lingkungan sangat penting untuk memperbaiki sifat anak yang terlalu sensitif sehingga anak dapat menyikapi setiap peristiwa dengan sikap yang lebih matang dan tepat.

Mereka umumnya sangat sulit untuk mengatasi perasaan tersinggungnya. Mereka lebih sering tampil sebagai anak yang temperamental dan bersikap murung. “Pandangan anak sensitif cenderung negatif sehingga apa saja bisa dipandang salah, Jika dilihat dari penyebabnya, sifat sensitif pada si kecil juga terjadi karena merasa dirinya tidak mampu. Di satu sisi,perasaan ini bisa saja merupakan penghayatan subjektif mereka.

Akibat lanjut dari hal tersebut justru mereka menjadi benar-benar “tidak mampu” karena tidak pernah berusaha untuk mencoba sesuatu keterampilan baru. “Di sisi lain, orang tua yang memiliki harapan yang tidak realistis juga bisa mengakibatkan anak balitanya merasakan diri tidak mampu. Karena hal yang dituntut dari orang tuanya memang tidak realistis jika dibandingkan dengan kemampuannya.

Terlebih jika anak merasa gagal memenuhi harapan orang tua atau orang tua sering mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri anak. Namun pada beberapa anak, mereka mempunyai niat sengaja menggunakan sifat sensitifnya untuk mengontrol orang lain. Jika dia meminta sesuatu dengan cara merengek, maka orang tuanya akan segera datang untuk membantunya.

Jika si anak tidak ingin melakukan sesuatu yang diminta orang tua misalnya, dia akan menangis atau marah-marah sampai orang tuanya menyerah. “Dengan begitu, si anak bisa menggunakan sifat sensitif tadi untuk mengontrol orang lain dan memenuhi apa yang diinginkannya. Kalau anak memanfaatkan sifat sensitifnya, sebaiknya orang tua mewaspadainya.

Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan kesimpulan dari dua penelitian baru terhadap anak-anak berumur 3 tahun yang diselenggarakan oleh para peneliti di Institut Max Planck bagian Antropologi Evolusioner di Leipzig, Jerman.

"Dalam usaha untuk mengetahui bahwa anak-anak merupakan penolong yang cukup rumit dan selektif, studi kami menunjukkan bahwa para anak kecil tak hanya sensitif terhadap perilaku moral orang lain tapi juga terhadap maksud di balik perilaku tersebut," menurut Amrisha Vaish yang merupakan peneliti posdoktoral di Institut Max Planck bagian Antropologi Evolusioner Jerman dan merupakan pemimpin penelitian tersebut. Demikian seperti yang dilansir oleh Science Blog (15/11/10).

Para peneliti melakukan dua studi bersama 100 orang anak Jerman kelas menengah yang berumur 3 tahun. Anak-anak tersebut berpartisipasi dalam beberapa skenario di mana para aktor dewasa melakukan berbagai ekting yang melibatkan tindakan suka menolong (menyatukan kembali lukisan yang dirobek seseorang, tindakan tidak baik (merobek lukisan orang lain), maksud yang tidak baik (ingin merobek lukisan orang lain tapi tak bisa), dan tindakan tidak baik yang tidak sengaja (secara tidak sengaja merobek lukisan orang lain). Orang-orang dewasa tersebut kemudian mulai memainkan satu permainan di mana tindakan suka menolong para anak diukur dengan cara apakah mereka memberikan bagian mainan yang hilang kepada para orang dewasa atau tidak.

Penelitian tersebut menemukan bahwa anak-anak jadinya kurang membantu seorang dewasa tak hanya ketika mereka melihat bahwa orang tersebut melakukan tindakan yang tidak baik terhadap orang lain tapi juga ketika mereka melihat bahwa orang tersebut berniat melakukan hal tidak baik bagi orang lain walaupun hal tersebut tidak dilakukan. Bilamana orang dewasa tersebut bersifat menolong dan ketika secara tidak sengaja menyebabkan hal yang tidak baik, anak-anak juga bersifat menolong. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak tak hanya sensitif terhadap perilaku moral orang lain tapi juga niat di balik perilaku tersebut.


SUMBER DATA :

http://www.srcd.org/
http://tinyurl.com/young-children-development

DAMPAK TONTONAN TELEVISI UNTUK ANAK



Dampak yang timbul untuk anak televisi.menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat terungkap bahwa televisi ternyata cuma bagus untuk ditonton pada anak-anak dengan rentang usia tertentu. Pada anak di bawah usia tiga tahun, dampak negatif televisi justru lebih terasa. Terbukti tayangan televisi dapat menurunkan kemampuan membaca, membaca komprehensif, bahkan penurunan memori pada anak. 

Batita yang terlalu sering menonton televisi akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembangnya. Sebab, televisi cuma menyodorkan stimulasi satu arah. Dampak sinar biru pada Televisi memancarkan sinar biru yang juga dihasilkan oleh matahari. Namun sinar biru ini berbeda dengan sinar ultra violet. Sinar biru tak membuat mata mengedip secara otomatis. Namun parahnya, sinar biru langsung masuk ke retina tanpa filter. Panjang gelombang cahaya yang dihasilkan adalah 400-500nm sehingga berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan melukai fotokimia pada retina mata anak.

Sepuluh tahun kemudian saat anak sudah dewasa, kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar biru terlihat amat jelas. Retina mata tak lagi bening sehat seperti masa kanak-kanak sehingga kemampuan berfungsinya pun menjadi juga berkurang.

Dampak yang timbul terhadap psikologis si anak.
Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini.Hhampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. 

Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur. Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program Acara Pendidikan.

 Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan televisi yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di televisi membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah.
Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005). Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.

Di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang “aneh-aneh” tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.

Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu.

Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. 

Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.Tidak ada suatu hal pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak kecuali alam bawah sadarnya yang sudah dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali disiarkan di televisi. Seperti contohnya seorang anak yang meninggal akibat bermain “smack down”. Sehingga tanpa pengawasan orang tua, televisi dapat berbahaya bagi anak-anak, dalam cara pikir, perilaku, kebiasaanya. Hali ini akan berpengaruh terhadap pembentukan watak anak tersebut hingga ia dewasa nanti. Bagaimanapun, televisi  merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa memberi pengaruh positif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting, mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton televisi. karena anak usia ini sedang dalam tahap mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan teman-temannya. Karena itu jangan jadikan televisi sebagai pengganti bentuk bermain. Menonton TV itu cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah.
Berbeda jika ia bermain dengan teman-temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Sehingga ada timbal-balik, belajar saling memberi. Serta peran orang tua yang harus selalu mendampingi anak-anaknya dalam menonton TV

Bagaimana penjelasan kesehatan mengenai masalah televisi pada anak? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Public Health England, menunjukkan bahwa televisi benar-benar sangat berpengaruh pada jiwa dan mental anak, khususnya dalam menurunkan masalah kemurungan dan kecemasan. Efek Televisi dan Kemurungan Kecemasan Anak tv berpengaruh pada anak suka cemas dan minder Menurut peneliti studi ini, semakin lama seorang anak menghabiskan waktunya di depan televisi maupun komputer maka semakin tinggi tingkat gangguan kecemasan (anxiety) yang dilaporkan dari anak-anak ini.

Selain menyebabkan obesitas, gaya hidup tak sehat akibat berlama-lama di depan televisi juga patut disalahkan karena telah memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak-anak, termasuk mengakibatkan kurang percaya diri, rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri, serta rendahnya tingkat kebahagiaan yang dirasakan anak-anak. Mereka juga dikatakan mengalami gangguan emosional dan depresi yang tinggi.

Studi ini kemudian dimanfaatkan Public Health England untuk mengkampanyekan pentingnya peranan orangtua dalam rangka mengubah pola makan dan aktivitas fisik anak-anaknya. Kampanye bertajuk The Smart Restart ini juga menyertakan tips untuk mengurangi waktu yang dihabiskan anak di depan televisi, mendorong anak agar mau berangkat sekolah dengan jalan kaki dan makan siang dengan menu yang sehat. "Banyak faktor kompleks yang mempengaruhi kesejahteraan seorang anak, misalnya dari lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka dan kehidupan sosialnya, kondisi finansial serta kondisi keluarganya," terang Profesor Kevin Fenton, direktur divisi kesehatan dan kesejahteraan anak dari Public Health England, seperti dikutip dari Healthday, Rabu (28/8/2013).

"Tapi ada juga hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan bersama anak setiap hari untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraannya. Dan kampanye Smart Restart ini bertujuan memberi inspirasi dan sarana bagi keluarga untuk mencapai target tersebut," tambahnya. Secara spesifik direktur komunikasi, kebijakan dan kampanye dari The Children's Society, Lil Caprani menimpali bahwasanya dalam Good Childhood Report yang mereka buat setelah melakukan sejumlah interviu langsung dengan anak-anak tentang apakah yang membuat mereka 'sejahtera', peneliti menemukan adanya keterkaitan yang kuat antara keaktifan fisik dan kebahagiaan. "Aktivitas seperti bersepeda, berenang atau bermain sepakbola jelas membuat anak sehat dan bahagia, tapi bahkan hal-hal sederhana seperti jalan-jalan saja sudah dikaitkan dengan tingginya tingkat kesejahteraan pada anak," tutupnya.

Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan hubungan lama menonton televisi dengan perilaku antisosial. Di Universitas Glasgow, peneliti menemukan bahwa “menonton televisi, video, atau DVD selama 3 jam atau lebih sehari berhubungan dengan peningkatan masalah perilaku antara usia 5 sampai 7 tahun.” Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel 11,000 anak yang lahir antara tahun 2000 hingga 2002. Gangguan perilaku yang dimaksud adalah perilaku antisosial seperti berkelahi, bulliying atau permusuhan.

Pada penelitian yang dipublikasikan pada tanggal 25 Maret 2013 di Archives of Disease in Childhood ini, para ibu dari anak-anak yang berusia 5 sampai 7 tahun diberikan sebuah kuesioner yang mengukur masalah perilaku, gejala emosional, gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas, kesulitan berteman, dan empati terhadap orang lain (yang dinilai sebagai perilaku pro-social). Mereka juga ditanyakan berapa sering anak menonton televisi atau bermain komputer dan video games pada usia 5 tahun.

Senada dengan hasil tersebut, sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan di Selandia Baru terhadap 1000 anak yang lahir di Dunedin, Selandia Baru pada tahun 1972 dan 1973 menunjukkan hubungan lamanya menonton televisi dengan perilaku antisosial dan kriminal saat anak-anak tersebut dewasa. Dr. Bob Hancox dan koleganya menemukan adanya peningkatan risiko sesorang melakukan tindakan kriminal sebanyak 30% dengan setiap jam yang dilalui dengan menonton televisi.
Studi tersebut juga menemukan bahwa anak-anak yang lebih banyak menonton televisi memiliki peningkatan kecenderungan memiliki emosi negatif dan peningkatan risiko gangguan kepribadian antisosial. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada jurnal bergengsi Pediatrics bulan Maret 2013.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pembatasan waktu menonton televisi pada anak yaitu 1 – 2 jam per hari. Orangtua juga perlu memperhatikan konten acara televisi yang ditonton. Kedua penelitian tersebut memang hanya menunjukkan hubungan asosiasi dan bukan sebab-akibat. Namun, hasil penelitian-penelitian yang disebutkan di atas mendukung rekomendasi AAP agar orangtua membatasi dan mengawasi waktu menonton televisi setiap harinya.



DAFTAR PUSTAKA